*mohon maaf sebelumnya kalau ada kata-kata yang tidak berkenan di hati. Ini hanyalah pemikiran seorang SAYA
1. Isu pengotak-kotakan divisi biro kayanya udah lama banget ada.
Bagaimana pandangan teman-teman mengenai isu ini? Jika memang isu ini
benar, bagaimana mengatasinya?
Sebenarnya sebelum saya masuk ke divisi media, hal tersebut tampaknya sudah menjadi wejangan Kak Nanto (kalau tidak salah) ketika LKO dulu tapi saya benar-benar tidak mengerti apa maksudnya hal itu. Saat itu saya berpikir, “ah masa iya ada pengkotak-kotakan divisi?? Kayak nge-gang gitu kah??”.Yah sebuah pemikiran lugu dari seorang saya. Setelah lebih dari 6 bulan saya menjadi anggota biasa HMIF dan menjadi salah satu kru media saya baru memahami maksud pengotak-kotakan divisi biro ini. Sebenarnya pengotak-kotakan divisi biro bukan orang-orangnya yang seperti memisahkan diri tapi , menurut pandangan saya, program kerjanya yang tampak seolah-olah memisahkan kita. Seperti misalnya saja, sementara anak-anak divpro sibuk ngurusin MSDN day anak-anak divkel sibuk ngurusin MUKRAB. Adanya kesibukan sendiri di divisi/biro masing-masing inilah yang membuat adanya pengotak-kotakan divisi biro. Solusi yang saya pikirkan adalah pembagian jadwal program kerja. Saya tahu hal ini memang sudah dilakukan dari kepengurusan terdahulu. Tapi pembagian yang saya pikir cukup efektif adalah bukan pembagian kapan proker itu dilaksanakan tapi pembagian waktu untuk setiap proker dimana waktu yang dibagi tersebut mencakup waktu persiapan, waktu pelaksanaan, dan waktu istirahat sementara karena saya merasa percuma saja kalau ada pembagian waktu terlaksananya program kerja kalau tidak ada tenggang waktu persiapan dan istirahatnya. Orang-orang pasti akan merasa lelah untuk mengikuti kegiatan lain lagi dan lagi dengan adanya kegiatan yang susul-menyusul akan menghilangkan esensi dibalik adanya proker tersebut.
2. HMIF adalah oragnisasi yang anggotanya mengalir (tiap tahun ada yg
keluar, ada anggota baru masuk). Bagaimana strategi teman-teman dalam
menjamin tersampaikannya pengetahuan dari anggota yang lebih
berpengalaman ke anggota lainnya?
Cara yang paling gampang adalah dengan adanya pelatihan dari anggota yang berpengalaman tersebut ke angkatan di bawahnya dan pengetahuan tersebut terus diajarkan ke angkatan bawahnya lagi. Tapi sebenarnya penurunan ilmu dengan bentuk pelatihan saja terkadang kurang efektif. Menurut saya, dengan adanya proker juga membantu adanya penurunan ilmu. Seperti, misalnya saja, divisi media, saya memandang divisi media berisikan orang-orang yang bisa dikatakan berpengalaman di bidang design dan jurnalistik karena mereka terbiasa melakukan pekerjaan dibidang itu , walaupun masih dalam skala kecil. Nah, bagaimana pengetahuan-pengetahuan tersebut bisa diturunkan ke angkatan dibawahnya? Kembali ke poin awal saya, salah satunya dengan adanya proker. Secara tidak langsung, angkatan dibawah kita akan melakukan hal yang kita lakukan dulu dan mereka mengerjakannya dengan bimbingan kita. Mungkin kita bukan orang yang paling jago di bidang ini, tapi paling tidak kita pernah melakukan hal ini dan pengalaman kitalah yang mengajarkan kita sekaligus juga mengajarkan angkatan dibawah kita tersebut, untuk meneruskan hal yang baik, kesuksesan yang dicapai dan untuk menghindari melakukan kesalahan yang pernah kita lakukan sebelumnya.
I’ll keep you updated..see ya! and have a nice day
Delicious as Avocado
