Saya tidak tahu harus menyebut hal ini apa. Pathetic atau realistic atau mungkin this is life.

Pernahkah anda menjadi seorang ambisius. Atau mungkin gampangnya, mempunyai suatu target untuk dicapai?

Saya punya. Bisa dikatakan saya ini orang yang sangat ambisius. Ketika saya ingin meraih sesuatu pasti saya akan berjuang keras untuk mencapai itu. Salah satu teman saya menyebut saya “gigih”. Mama saya menyebut “ririz, itu kalo udah maunya ya maunya”.

Mungkin anda tidak percaya. Banyak contohnya.

/*feel free not to read this*/

  • Teman saya pernah ketiduran menjelang detik-detik deadline, dimana rumahnya itu jauh sekali. Apa yang saya lakukan untuk menghubunginya? Berjuta(yang ini lebay) sms yang tak dibalas, berpuluh2 miscall yang gak dibales, berpuluh2 tweet yang tak dibalas, tulisan di wall yang tak dibalas. Saya bahkan bisa mendapatkan nomer adeknya yang ditelpon berkali2, mencari tahu nomer rumahnya yang tak dijawab(mencarinya mulai pake white pages online sampe pakai database angkatan), bahkan sampai add facebook ayahnya. Dia menjuluki saya “gigih”. Dan tugas untuk mencari dan menghubungi dia di kala hilang menjelang deadline menjadi tugas permanen saya. Bahkan anggota kelompoknya sampai mencari-cari saya dulu untuk diminta mencari teman saya ini (aneh kan? Ya saya rasa juga begitu).


Saya punya banyak ambisi. Nilai bagus kemampuan hard skill lain yang juga bagus.

Saya sering belajar mati-matian untuk suatu ujian. Tapi ternyata teman saya yang malas kuliah dan malas belajar malah dapat nilai yang jauh lebih bagus. Nyesek kan? Dunia memang kejam.

Saya sangat berambisi menjadi seorang penulis. Bukan hanya sekadar penulis yang dinilai kemampuannya dari berapa banyak lembar tulisan yang bisa dia hasilkan tapi dari kualitas tulisan yang dia buat. Selain berambisi menjadi seorang penulis, saya ini pembaca yang sangat kritis dan kadang suka berkomentar tak tahu diri. Saya selalu mendapatkan kelemahan di setiap penulis tapi bahkan untuk menjadi penulis setaraf dia saja saya tak mampu. Mungkin ini yang namanya kritikus sok tahu. Sedihnya disaat saya cuap-cuap ingin menjadi seorang penulis. Malahan teman saya yang santai-santai saja bisa menghasilkan tulisan yang menurut saya sangat bagus (simple tapi bagus).

Hal yang saya dapatkan berkaca dari masalah-masalah ini adalah apapun hasilnya ingatlah ketika kita berambisi belum tentu kita akan berhasil. Tapi bukan berarti kita tidak usah berusaha untuk mencapai hal tersebut. Ada kalanya kita harus menerima kenyataan dengan lapang dada. Tapi yang lebih penting adalah kita harus menikmati semua proses untuk mencapai target tersebut. Karena dari situlah kita akan banyak belajar. Dan mungkin secara tidak kita sadari, kita sedang menapaki tangga menuju kesuksesan itu sendiri. Karena kesuksesan tidak dicapai dengan sekali jalan kan?

Advertisement